PELUANG EMAS BERTABURAN DI PEDESAAN

Owner SGA

Saat ini para eksportir sudah mengeluh kesulitan komoditas. Mereka tidak punya barang yang akan diekspor ke pasar global. Keluhan itu klasik yaitu  6K meliputi kontinuitas, kuantitas, kualitas, kecepatan, ketepatan dan kompetitifnya harga. Padahal permintaan pasarnya beragam dan besar. Hanya petani/peternak lah yang punya barang. Sekarang saatnya kita kembali ke desa (back to village) karena desa adalah tempat produksi komoditas.

Dampak Covid 19 menggiring masyarakat kota agar kembali ke desa. Harus tetap selamat bebas tertular dan harus produktif buat hidup keluarganya. Tidak ada pilihan lagi, sektor produksi/budidaya harus kita kembangkan. Banyak peluang usaha di desa yang bisa kita kerjakan, diantaranya adalah :

1.Cetak sawah di lahan kurang produktif, tanah disuburkan dengan pupuk organik, kurangi penggunaan pupuk kimia sehingga kesuburan tanah terjaga dan beras yang dihasilkan sehat bagi tubuh. Sebagian padi disimpan di lumbung untuk cadangan pangan sampai panen berikutnya.

2.Buat kolam ikan, tanam benih lele, gurame, nila atau jenis lain yang mudah dibudidayakan dan mudah dijual. Beri pakan dari limbah rumah tangga sehingga manfaat dan tidak mencemari lingkungan. Panen ikan sesuai kebutuhan, jika berlebih bisa dijual ke tetangga atau pasar.

3.Beternak ayam kampung, disamping tahan penyakit juga lebih sehat dagingnya. Manfaatkan halaman belakang rumah untuk kandang ayam, ambil menir beras dari penggilingan padi untuk pakannya. Lagi lagi untuk kebutuhan konsumsi sendiri, dan jika berlebih bisa dijual ke pasar. Hasilnya bisa untuk biaya sekolah anak anak kita.

4.Bangun kandang sapi skala 20-100 ekor. Beli Sapi Bali indukan dan jantandengan rasio 40 : 1, karena jenis sapi ini mudah dipelihara, tahan penyakit serta ketersediaan bibitnya masih banyak. Lakukan perkawinan alami karena ini yang paling efektif dan membuat sapi bahagia. Pedet sebagian dibesarkan dan dijual, yang kualitas bagus dipelihara sebagai bibit. Ini adalah usaha investasi jangka menengah dan panjang. Jangan biasakan jual pedet meskipun harga saat ini mahal. Kita harus sabar dan punya idealisme dalam berkontribusi membangun peternakan sapi nasional. Sumber pakan konsentrat ; dedak, onggok, ampas tahu melimpah di pedesaan sehingga bisa menekan HPP produksi.

5.Menanam rumput gajah atau sejenisnya. Siapa sangka, ternyata hasil panen rumput tidak kalah dengan padi. Dalam 1 Ha bisa panen 30 ton per 40 hari. Manfaatkan lahan kosong di pekarangan, kebun, atau apapun yang ada di desa. Dengan estimasi harga Rp. 150 / kg akan dapat keuntungan 4,5 juta per panen atau 3 juta per bulan. Hampir tidak ada biaya perawatan karena kotoran sapi atau ayam bisa dimanfaatkan sebagai pupuknya.

6.Mengolah pupuk organik dari kotoran sapi dan ayam sebagai tambahan income keluarga. Satu ekor sapi menghasilkan sedikitnya 10 kg faeces/hari, jika diolah menjadi pupuk bisa dijual paling murah Rp. 1.000 / kg. Pasar terbuka luas, teman saya di Tulang Bawang Provinsi Lampung setiap bulan butuh ratusan ton pupuk organik. Pandemi Covid 19 memberi pembelajaran kepada kita, jika kita dalam kesulitan maka kemudahan berupa peluang akan datang. Majunya negara miskin adalah karena SDM nya senantiasa pandai dalam menghadapi kesulitan. Mereka tiada pernah dimanja alam agar bermalasan. Data juga menjabarkan bahwa negara-negara sepanjang garis katulistiwa hampir semuanya kalah bersaing percepatan majunya karena malas akibat dimanja oleh alamnya. Yuk move on, saatnya kita ke desa, jadi petani/peternak mengembangkan produksi/budidaya apa pun itu usahanya. Jadikan momentum Covid 19 agar
bisa menemukan jati diri

(Selasa, 29 Desember 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *