Peternakan SAPI BALI di Tengah Kebun Sawit

Soal Lahan bukan masalah bagi upaya pencapaian swasembada daging sapi nasional. Bahkan keuntugan berlipat ganda akan terjadi jika jutaan hektar perkebunan kelapa sawit nasional diintegrasikan dengan peternakan Sapi Bali.

Pengembangan program Integrasi peternakan Sapi Bali – Kelapa Sawit mempunyai peluang pengembangan yang sangat prospektif ditinjau dari aspek permintaan atas sapi nasional, ketersediaan pakan sapi melalui sinergi dengan kebun sawit dan hasil sampingan proses pengolahan hasil kebun, serta pemanfaatan kotoran sapi secara maksimal.

Mengapa tidak ? Produksi limbah pertanian sangat tergantung pada waktu panenan yang mengakibatkan ketersediaan secara kontinyu sepanjang tahun untuk  dibutuhkan tempat penyimpanan untuk menampung limbah pertanian saat panen. Di dalam pola integrasi ini, tanaman kelapa sawit sebagai komponen utama, sedangkan ternak sebagai komponen pelengkap. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor pembatas dalam pemanfaatanya sebagai pakan.

Limbah kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan adalah : pelepah sawit, lumpur sawit, bungkil inti sawit. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa pelepah sawit mengandung protein sebesar 1,9%, lemak 0,5% dan lignin 17,4%. Kombinasi serat buah (25%), BIS (15%)  dan lumpur sawit (10%) dengan total kontribusi 50% dapat digunakan untuk sapi.

Disamping memanfaatkan hasil limbah kelapa sawit, peternakan sapi bali yang integrasikan dengan kelapa sawit ini juga bisa memakan gulma yang berada disekitar perkebunan kelapa sawit.  Tanaman penutup lahan kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan oleh ternak sebagai hijauan, seperti : Callopogonium Muconoides, Centrocema Pubescent, Pueraria Javanica, Psophocarpus Palustris, Callopogonnium Caerulium dan Muchuma Cochinensisc. Dimana tanaman leguminosa penutup lahan  dapat memproduksi hijauan setara dengan 5-7 ton.

Tujuan pembangunan penutup tanah adalah untuk mengurangi erosi permukaan tanah, manambah bahan organik dan cadangan unsur hara, memperbaiki aerasi, menjaga kelembaban tanah menekan perkembangan gulma, menghemat penyiangan dan pemupukan serta menekan gangguan kumbang orycites.

Untuk menunjang keberhasilan sistem integrasi ternak dengan perkebunan kelapa sawit dibutuhkan teknologi tepat guna dan sosialisasi berkelanjutan dalam hal pengolahan limbah perkebunan/pabrikan sebagai sumber pakan ternak, pengolahan kompos yang berkualitas dalam waktu pendek, pendugaan kapasitas tampungan lahan perkebunan untuk jenis ternak tertentu, serta manajemen pemeliharaan ternak yang intensif. Disamping itu ternak sapi yang diintegrasikan dengan kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan sebagai penarik gerobak maupun mengangkut hasil panenan kelapa sawit dan kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, yang mana pada akhirnya bisa menghemat biaya produksi.

Pada perkebunan besar di sejumlah daerah, integrasi sapi dengan kelapa sawit ini telah berjalan dengan baik. Beberapa wilayah yang kini cukup serius membangun pola agribisnis terintegrasi itu diantaranya Kalimantan Timur, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *