PELUANG EMAS BERTABURAN DI PEDESAAN

Owner SGA

Saat ini para eksportir sudah mengeluh kesulitan komoditas. Mereka tidak punya barang yang akan diekspor ke pasar global. Keluhan itu klasik yaitu  6K meliputi kontinuitas, kuantitas, kualitas, kecepatan, ketepatan dan kompetitifnya harga. Padahal permintaan pasarnya beragam dan besar. Hanya petani/peternak lah yang punya barang. Sekarang saatnya kita kembali ke desa (back to village) karena desa adalah tempat produksi komoditas.

Dampak Covid 19 menggiring masyarakat kota agar kembali ke desa. Harus tetap selamat bebas tertular dan harus produktif buat hidup keluarganya. Tidak ada pilihan lagi, sektor produksi/budidaya harus kita kembangkan. Banyak peluang usaha di desa yang bisa kita kerjakan, diantaranya adalah :

1.Cetak sawah di lahan kurang produktif, tanah disuburkan dengan pupuk organik, kurangi penggunaan pupuk kimia sehingga kesuburan tanah terjaga dan beras yang dihasilkan sehat bagi tubuh. Sebagian padi disimpan di lumbung untuk cadangan pangan sampai panen berikutnya.

2.Buat kolam ikan, tanam benih lele, gurame, nila atau jenis lain yang mudah dibudidayakan dan mudah dijual. Beri pakan dari limbah rumah tangga sehingga manfaat dan tidak mencemari lingkungan. Panen ikan sesuai kebutuhan, jika berlebih bisa dijual ke tetangga atau pasar.

3.Beternak ayam kampung, disamping tahan penyakit juga lebih sehat dagingnya. Manfaatkan halaman belakang rumah untuk kandang ayam, ambil menir beras dari penggilingan padi untuk pakannya. Lagi lagi untuk kebutuhan konsumsi sendiri, dan jika berlebih bisa dijual ke pasar. Hasilnya bisa untuk biaya sekolah anak anak kita.

4.Bangun kandang sapi skala 20-100 ekor. Beli Sapi Bali indukan dan jantandengan rasio 40 : 1, karena jenis sapi ini mudah dipelihara, tahan penyakit serta ketersediaan bibitnya masih banyak. Lakukan perkawinan alami karena ini yang paling efektif dan membuat sapi bahagia. Pedet sebagian dibesarkan dan dijual, yang kualitas bagus dipelihara sebagai bibit. Ini adalah usaha investasi jangka menengah dan panjang. Jangan biasakan jual pedet meskipun harga saat ini mahal. Kita harus sabar dan punya idealisme dalam berkontribusi membangun peternakan sapi nasional. Sumber pakan konsentrat ; dedak, onggok, ampas tahu melimpah di pedesaan sehingga bisa menekan HPP produksi.

5.Menanam rumput gajah atau sejenisnya. Siapa sangka, ternyata hasil panen rumput tidak kalah dengan padi. Dalam 1 Ha bisa panen 30 ton per 40 hari. Manfaatkan lahan kosong di pekarangan, kebun, atau apapun yang ada di desa. Dengan estimasi harga Rp. 150 / kg akan dapat keuntungan 4,5 juta per panen atau 3 juta per bulan. Hampir tidak ada biaya perawatan karena kotoran sapi atau ayam bisa dimanfaatkan sebagai pupuknya.

6.Mengolah pupuk organik dari kotoran sapi dan ayam sebagai tambahan income keluarga. Satu ekor sapi menghasilkan sedikitnya 10 kg faeces/hari, jika diolah menjadi pupuk bisa dijual paling murah Rp. 1.000 / kg. Pasar terbuka luas, teman saya di Tulang Bawang Provinsi Lampung setiap bulan butuh ratusan ton pupuk organik. Pandemi Covid 19 memberi pembelajaran kepada kita, jika kita dalam kesulitan maka kemudahan berupa peluang akan datang. Majunya negara miskin adalah karena SDM nya senantiasa pandai dalam menghadapi kesulitan. Mereka tiada pernah dimanja alam agar bermalasan. Data juga menjabarkan bahwa negara-negara sepanjang garis katulistiwa hampir semuanya kalah bersaing percepatan majunya karena malas akibat dimanja oleh alamnya. Yuk move on, saatnya kita ke desa, jadi petani/peternak mengembangkan produksi/budidaya apa pun itu usahanya. Jadikan momentum Covid 19 agar
bisa menemukan jati diri

(Selasa, 29 Desember 2020)

Tips Memilih Daging Sapi Beku Dalam Kemasan

Menurut SNI 3932:2008 yang dimaksud dengan daging beku adalah daging segar yang sudah mengalami proses pembekuan di dalam blast freezer dengan temperatur minimal -18 derajat celcius. Pembekuan daging bertujuan untuk menghambat atau menginaktifkan proses kerusakan yang diakibatkan oleh mikroorganisme sehingga dapat memperpanjang masa simpan daging, dalam kondisi beku pada suhu -18 derajat celsius, daging dapat bertahan disimpan hingga 6 bulan.

Dewasa ini retail modern banyak menjajakan daging sapi beku dalam kemasan, umumnya daging beku merupakan daging impor dari luar negeri meskipun sudah mendapatkan jaminan kualitas dari pemasok atau suplier namun ada baiknya konsumen harus bisa memilih sendiri daging beku dengan kualitas yang baik. Umumnya memilih daging dapat dilihat dari berbagai cara yaitu secara organoleptis dengan mengamati warna daging, tekstur daging serta aroma daging, namum dalam kondisi beku perlu parameter lain untuk diamati sebelum membeli daging beku dalam kemasan, berikut tips memilih daging beku yang baik.

1. Perhatikan Tanggal Kadaluarsa

Slide2

Tanggal kadaluarsa menjadi penting untuk diamati sebelum membeli daging beku, biasanya dipampang dengan jelas di label kemasan, namun apabila kemasan dalam bentuk curah biasanya label kadaluarsa ditempel di kaca freezer. Tanyakan kepada petugas toko apabila daging tidak dilengkapi dengan tanggal kadaluarsa.

2.Pastikan Memiliki Label Halal

Slide3

Indonesia mensayaratkan daging Sapi yang dijual baik dalam keadaan segar ataupun beku harus memenuhi aspek kehalalan, baik itu yang berasal dari lokal maupun luar negeri. Sebelum membeli pastikan tercantum logo halal dari otoritas lembaga halal negara asal, untuk daging beku dalam bentuk curah biasanya logo halal dari dus ditempelkan di kaca freezer.

3.Pastikan daging dikemas secara rapat dan tidak ada cairan yang keluar menetes

Slide4

Daging beku biasanya dikemas dalam kemasan plastik, pastikan plastik dalam keadaan rapat dan tidak ada cairan yang menetes banyak dari dalam daging karena tetesan air yang banyak menandakan masa simpan daging sudah lama dan telah terjadi fluktuasi suhu beberapa kali selama penyimpanan sehingga tentu saja kualitas daging sudah menurun.

4.Sentuh bagian permukaan kemasan, pastikan masih terasa dingin / beku

Slide5

Pastikan daging masih dalam keadaan beku, saat ditekan masih terasa dingin karena apabila daging sudah tidak terasa dingin saat ditekan berarti sudah terjadi peningkatan suhu penyimpanan yang dapat menurunkan kualitas daging.

5.Warna Daging Sapi Merah Cerah

Slide6

Pastikan warna daging masih merah cerah dan tidak tampak gelap, karena daging sapi beku merupakan daging segar yang langsung segera dibekukan dengan menggunakan blast freezer hingga suhu -18 derajat celsius sehingga seharusnya tidak terjadi perubahan warna yang signifikan apabila sistem rantai dingin berjalan dengan baik, apabila daging tampak berubah menjadi gelap berarti sudah mulai terjadi pembusukan.

6.Tidak ada aroma yang menyimpang (bau busuk / amis berlebihan)

Slide7

Aroma daging Sapi beku seharusnya tidak jauh berbeda dengan daging segar yaitu aroma khas daging Sapi dan tidak ada bau busuk atau aroma menyimpang yang lain.

Demikian tips yang dapat disampaikan dalam memilih daging beku dalam kemasan semoga bisa menjadi panduan dasar sebelum membeli daging beku di swalayan ataupun retail lainnya. Mari kita senantiasa mengkonsumsi produk Hewan yang aman, sehat, utuh dan halal.

Cara Penggemukan Sapi Bali Jantan dengan Pemberian Pakan yang Baik

Tidak semua orang berhasil dalam melakukan penggemukan sapi bali jantan, hal ini karena ketidaktahuan mereka dalam melakukan penggemukan sapi. Penggemukan sapi bali jantan tidak hanya dilakukan dengan cara memberikan pakan saja, namun pemberian vitamin juga harus dilakukan agar sapi tetap nomal dan kebutuhan gizinya terjaga. Pada melakukan penggemukan ada beberapa syarat terutama pada pakannya.

Dalam penggemukan sapi bali jantan, pakan sapi adalah nomor satu karena pakan yang baik akan sangat cepat menggemukan sapi  tersebut. Namun, kadang pakan menjadi masalah karena ada sebagian sapi yang cocok dengan beberapa jenis pakan. Maka dari itu, pembudidaya harus pandai mencari pakan yang cocok untuk sapi terutama dalam masa penggemukan sapi bali jantan tersebut.

Indonesia kaya dengan berbagai macam ternak, salah satu hewan ternak yang memiliki banyak keuntungan yaitu sapi. Sapi merupakan hewan ternak yang memiliki banyak keuntungan bagi pemiliknya, diantaranya sapi dapat diambil susunya untuk dijadikan minuman olahan, daging dan kulit sebagai bahan makanan manusia, selain itu juga kulit sapi bisa diolah menjadi kerajinan tangan salah satunya tas kulit sapi. Selain menjadi bahan olahan makanan dan juga, sapi juga bisa dijadikan alat transpotasi untuk menarik gerobak dan membajak sawah.

Daging sapi yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yaitu daging sapi bali jantan. Sapi bali jantan meruapakan sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk diambil dagingnya. Dengan begitu tingginya permintaan produksi daging di masyarakat sehingga pelaku usaha atau pembudidaya sapi bali jantan berpikir bagaimana cara untuk menggemukan sapi bali jantan tersebut.

Carilah pakan sapi yang memiliki kandungan gizi yang cukup untuk kebutuhan sapi tersebut, pakan haruslah mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Serta pakan tersebut dalam keadaan baik dan tidak tercemar kotoran atau bibit penyakit yang bisa merusak pakan tersebut. Untuk mencari pakan, carilah pakan di siang hari atau sore hari hal ini karena untuk menghindari telur cacing.

Di Indonesi budidaya sapi masih minim dan usaha berternak sapi kebayakan masih dengan menggunakan sistem tradisional dan dijadikan sebagai usaha sambilan. Pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin meningkat sehingga jumlah permintaan dan kebutuhan daging juga tinggi, terutama daging sapi. Namun, jumlah produksi daging sapi saat ini masih belum bisa memenuhi jumlah kebutuhan masyarakat akan daging.

Jenis Pakan Sapi bali jantan

Continue reading →

Mengenal Sapi Bali

Habitat Sapi Bali 2 (1)xxx

Sapi potong asli Indonesia salah satunya adalah sapi Bali.  Sapi Bali merupakan hasil domestikasi dari banteng (bibos banteng)  habitat aslinya di Pulau Bali.  Populasinya tahun 2018 ini ditaksir sekitar 5jutaekor.  Menurut sumber balivetman saat ini Sapi Bali masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

 

Silsilah Sapi Bali

Sapi Bali (Bos sondaicus) telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa atau Bali dan Lombok. Hal ini diperkuat dengan kenyataan  bahwa sampai saat ini masih dijumpai banteng yang hidup liar di beberapa lokasi di Pulau Jawa, seperti di Ujung Kulon serta Pulau Bali yang  menjadi pusat gen sapi Bali.

Sapi Bali dikenal juga dengan nama Balinese Cow yang kadang-kadang disebut juga dengan nama Bibos javanicus, meskipun Sapi Bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus. Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan Sapi Bali diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih termasuk genus bos.

Dari Pulau Bali yang dipandang sebagai pusat perkembangan sekaligus pusat bibit,Sapi Bali menyebar dan berkembang hampir ke seluruh pelosok nusantara. Penyebaran Sapi Bali di luar Pulau Bali yaitu ke Sulawesi Selatan pada tahun 1920 dan 1927, ke Lombok pada abad ke-19, ke Pulau Timor pada tahun 1912 dan 1920. Selanjutnya Sapi Bali berkembang sampai ke Malaysia, Philipina dan Ausatralia bagian Utara. Sapi Bali juga pernah diintroduksi ke Australia antara 1827-1849.

Dengan data-data seperti tersebut diatas, Sapi Bali merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang harus dilestarikan agar tidak punah. Oleh sebab itu kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004danPerda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.

 

Ciri-ciri Sapi Bali

  • Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosterone
  • Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan ditemukan sekitar kurang dari 1% . Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap.
  • Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
  • Kepala agak pendek dengan dahi datar.
  • Badan padat dengan dada yang dalam.
  • Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir
  • Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
  • Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
  • Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam
  • Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.

Keunggulan Sapi Bali

  • Subur (cepat berkembang biak/ fertilitas tinggi)
  • Mudah beradaptasi dengan lingkungannya,
  • Dapat hidup di lahan kritis.
  • Mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.
  • Persentase karkas yang tinggi.
  • Harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat.
  • Khusus Sapi Bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF (Malignant Catarrhal Fever). Sapi Nusa Penida juga dapat menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
  • Kandungan lemak karkas rendah.
  • Keempukan daging tidak kalah dengan daging impor.  (Dunia sapi)
  • Fertilitas sapi Bali berkisar 83 – 86 %, lebih tinggi dibandingkan sapi Eropa yang 60 %.
  • Karakteristik reproduktif antara lain : periode kehamilan 280 – 294 hari, rata-rata persentase kebuntingan 86,56 %, tingkat kematian kelahiran anak sapi hanya 3,65 %, persentase kelahiran 83,4 %, dan interval penyapihan antara 15,48 – 16,28 bulan.  (Suharjawanasuria)

Kelemahan Sapi Bali

  • Dapat terserang virus Jembrana yang menyebar melalui media “lalat”.
  • Rentan terhadap Malignant Catarrhal Fever , jika berdekatan dengan domba.

Sumber : (duniasapi)

Sapi Bali sebagai Kekayaan Plasma Nutfah Indonesia

peternakan-sapi-bali-sumbawa-11

Sapi Bali merupakan salah satu kekayaan plasma nutfah asli dari negeri kita yang harus kita lestarikan. Sapi Bali merupakan sapi keturunan Bos sondaicus (Bos Banteng) yang berhasil dijinakkan dan mengalami perkembangan pesat di Pulau Bali. Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Sapi Bali termasuk sapi dwiguna (kerja dan potong). Sapi Bali hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sapi bali penyebarannya cukup merata di wilayah Indonesia.

Sapi Bali memiliki tubuh berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.

Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.

Ukuran tubuh sapi Bali ternyata sangat dipengaruhi oleh tempat hidupnya yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan di daerah pengembangan. Sebagai gambaran umum ukuran tubuh yang dilaporkan Pane (1990) dari empat lokasi berbeda (Bali, NTT, NTB dan Sulawesi selatan) diperoleh data sbb:

* Tinggi gumba Jantan : 122-126 cm.
* Tinggi gumba Betina : 105-114 cm.
* Panjang badan Jantan : 125-142 cm.
* Panjang badan Betina : 117-118 cm.
* Lingkar dada Jantan : 180-185 cm.
* Lingkar dada Betina : 158-160 cm
* Tinggi panggul : 122 cm
* Lebar dada: 44 cm
* Dalam dada: 66 cm.
* Lebar panggul : 37 cm
* Berat sapi jantan : 450 kg.
* Berat Sapi Betinanya: 300 – 400 kg.

Karakteristik reproduktif antara lain :

* Fertilitas sapi Bali : 83 – 86 %, lebih tinggi dibandingkan sapi Eropa yang 60 %.
* Periode kehamilan: 280 – 294 hari.
* Persentase kebuntingan: 86,56 %.
* Tingkat kematian kelahiran anak sapi : 3,65 %
* Persentase kelahiran : 83,4 %.
* Interval penyapihan: 15,48 – 16,28 bulan.
* Umur dewasa kelamin betina : 18-24 bulan, kelamin jantan : 20-26 bulan (Payne dan

Rollison, 1973; Pane, 1991).
* Umur kawin pertama betina: 18-24 bulan, jantan: 23-28 bulan
* Beranak pertama kali : 28-40 bulan dengan rataan 30 bulan (Sumbung et al., 1978;

Davendra et al., 1973; Payne dan Rollinson, 1973).
* Lama bunting : 285-286 hari (Darmadja dan Suteja, 1975).
* Jarak beranak : 14-17 bulan (Darmadja dan Sutedja, 1976).
* Persentase kebuntingan : 80-90%.
* Persentase beranak : 70-85% (Pastika dan Darmadja, 1976; Pane, 1991).
* Rata-rata siklus estrus : 18 hari, pada sapi betina dewasa muda berkisar antara 20 – 21 hari.
* Sedangkan pada sapi betina yang lebih tua : 16-23 hari (Pane, 1979) selama 36 – 48 jam

berahi dengan masa subur antara 18 – 27 jam (Pane 1979; Payne, 1971) dan menunjukkan

birahi kembali setelah beranak antara 2-4 bulan (Pane, 1979).
* Sapi Bali menunjukkan estrus musiman (seasonality of oestrus), pada Bulan Agustus –

Januari : 66%. Pada Bulan Mei – Oktober : 71%
* Data dari kelahiran terjadi bulan Mei – Oktober,dengan sex ratio kelahiran jantan : betina

sebesar 48,06% : 51,94% (Pastika dan Darmadja, 1976).
* Persentase kematian sebelum dan sesudah disapih pada sapi Bali berturut-turut adalah

7,03% dan 3,59% (Darmadja dan Suteja, 1976).
* Persentase kematian pada umur dewasa sebesar 2,7% (Sumbung et al., 1976).
* Berat lahir sapi Bali anak betina sebesar 15,1 kg,dan 16,8 kg untuk anak jantan (Subandriyo

et al., 1979)
* Berat lahir sapi Bali pada pemeliharaan dengan mono kultur padi, pola tanam padi-palawija

dan tegalan masing-masing sebesar 13,6, 16,8 dan 17,3 kg (Darmaja, 1980).
* Berat sapih kisaran antara 64,4-97 kg (Talib et al., 2003), untuk sapih jantan sebesar 75–

87,6 kg dan betina sebesar 72-77,9 kg (Darmesta dan Darmadja, 1976); 74,4 kg di Malaysia

(Devendra et al., 1973); 82,8 kg pada pemeliharaan lahan sawah, 84,9 kg dengan pola

tanam padi – palawija, 87,2 kg pada tegalan (Darmadja, 1980).
* Berat umur setahun berkisar antara 99,2-129,7 kg (Talib et al., 2003) dimana sapi betina

sebesar 121-133 kg dan jantan sebesar 133-146 kg (Lana et al., 1979).
* Berat dewasa berkisar antara 211-303 kg untuk ternak betina dan 337-494 kg untuk ternak

jantan (Talib et al., 2003).
* Pertambahan bobot badan harian sampai umur 6 bulan sebesar 0,32-0,37 kg dan 0,28-0,33

kg masing-masing jantan dan betina (Subandriyo et al., 1979; Kirby, 1979).
* Pertambahan bobot badan pada berbagai manajemen pemeliharaan antara lain pemeliharaan

tradisional sebesar 0,23-0,27 kg (Nitis dan Mandrem, 1978); penggembalaan alam sebesar

0,36 kg (Sumbung et al., 1978); perbaikan padang rumput sebesar 0,25-0,42 kg (Nitis,

1976); pemeliharaan intensif sebesar 0,87 kg (Moran, 1978).

Sapi Bali memiliki sedikit lemak, kurang dari 4% (Payne dan Hodges, 1997) tetapi persentase karkasnya cukup tinggi berkisar antara 52-60% (Payne dan Rollinson, 1973) dengan perbandingan tulang dan daging sangat rendah; komposisi daging 69-71%, tulang 14-17% lemak 13-14% (Sukanten, 1991).

Sumber :
http://ohsapi.blogspot.com/
http://teamtouring.net/
http//balivetman.wordpress.com/
http://bimaagro.blogspot.com/

Sapi Bali Ternak Dengan 3 Langkah Mudah

penggemukan-sapi-bali-2

Sapi bali adalah jenis sapi yang unggul asli dari Bali Indonesia, sapi ini hasil domestikasi dari banteng atau bibos banteng. Sapi ini sudah cukup banyak populasinya dan dikembangbiakkan oleh warga bali sendiri sejak lama. Sapi bali saat ini banyak dijadikan komoditi usaha penggemukan sapi bali oleh banyak masyarakat Indonesia khususnya.

Sapi Bali Adalah . . .

Sejarah dari sapi bali adalah berasal dari banteng yang telah dijinakkan berabad-abad lalu, dan pada abad ke-18 sapi bali mulai menyebar ke Lombok kemudian di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Penyebaran sapi Bali tidak hanya di Indonesia namun juga sudah menyebar sampai ke Australia, Filipina, dan Malaysia.

Dulunya sapi bali adalah banteng yang mengalami beberapa perubahan karena cara hidupnya, dan bukan karena perkawinan silang dengan sapi jenis lainnya. Perubahan yang sangat nampak yaitu adanya perubahan ukuran yang sedikit lebih kecil dibandingkan dengan banteng, tinggi badan, dan terutama pada bobotnya. Kebanyakan masyarakat pulau dewata beternak sapi bali tidak hanya untuk dikonsumsi, namun juga dimanfaatkan untuk membajak sawah.

Sapi bali juga dikenal dimanfaatkan sebagai atraksi agrowisata dan juga dimanfaatkan dalam upacara keagamaan Hindu. Biasanya oleh agama Islam sapi bali digunakan sebagai hewan kurban pada saat hari raya Idul Adha, sehingga pemerintah perlu memperhatikan keberadaannya agar terus berkembang.

 

Sapi Bali Betina

Untuk reproduksi sapi bali sendiri dikenal sangat baik karena sapi bali betina sudah dapat dikawinkan pada usia 2 hingga 2,5 tahun, dengan jarak melahirkan antara 12 hingga 14 bulan. Walaupun mengalami perubahan pada ukuran dan bobot secara kesel

uruhan, ciri-ciri sapi bali masih sama dengan banteng sebagai moyangnya. Anak sapi bali berwarna sawo matang merah mengkilap dengan garis hitam di punggunnya yang terlihat jelas.

Pada saat dewasa sapi betina tetap berwarna sawo matang kemerahan, dan sedangkan pada sapi jantan akan berubah warna menjadi hitam. Namun jika dicermati sapi bali jantan memiliki bulu berwarna sawo matang kemerahan seperti pada sapi betina.

Sapi Bali Jantan

Sapi bali jantan yang sudah tua akan muncul warna putih pada dahinya dan diantara dasar-dasar tanduknya. Pada sapi bali memiliki dada yang dalam dan juga tubuh yang padat, tanduk pada sapi bali jantan pun tumbuh melebar ke arah luar kepala dan tanduk pada sapi bali betina cenderung mengarah ke dalam. Sapi bali memiliki ciri khas yaitu tidak berpunuk dan berkaki ramping.

 

Penggemukan Sapi Bali

sds

 Untuk dapat menjadi pengusaha sapi bali maka yang perlu diperhatikan adalah :

Menentukan bibit Sapi Bali

Untuk dapat menentukan kesuksesan dalam usaha penggemukan sapi bali, maka perlu di perhatikan beberapa tips. Untuk memilih bakalan atau bibit sapi bali sebaiknya dari sapi bali betina atau jantan tidak produktif. Dan pastikan juga bentuk fisik sempurna dari kepala, badan, hingga kaki harus sehat dengan ciri-ciri kulit bersih mengkilat, hidung sedikit basah atau lembab dan juga mata yang cerah bersih. Perhatikan juga pertautan kulit yang longgar dengan tingkat nafsu makan yang baik.

 

Penyiapan kandang Sapi Bali

Dalam penyiapan kandang sapi perlu adanya kriteria kandang bagi sapi yang harus disediakan untuk penggemukan sapi bali :

Kandang yang sesuai harus memiliki penutup atap yang dapat melindungi sapi dari terik matahari dan hujan, namun hewan sapi juga harus tetap mendapatkan cukup sinar matahari. Dan aliran udara yang lancer. Kandang juga harus dijaga kebersihannya, hal ini sangat penting, karena kebersihan dapat menjaga hewan ternak dari penyakit. Sehingga hewan sapi tetap terjaga kesehatannya.

Buatlah saluran pembuangan limbah kotoran yang lancer serta tempat penampungan limbah kotoran sapi yang cukup untuk menampung jumlah kotoran.

Usahakan kandang memiliki lantai yang datar dan keras dengan dilengkapi parit yang sejajar dengan arah menghadap sapi untuk tempat pakan. Buatlah kandang sapi dengan menggunakan bahan yang kuat, ini agar tidak melukai sapi dan juga dapat tahan lama. Pada kandang sapi dewasa dibutuhkan 2×1, 5×2 meter.

 

Penyediaan pakan

Pakan untuk sapi bali sebaiknya mencukupi agar dapat sukses dalam hasil penggemukan sapi bali. Berilah konsentrat dedak jagung, biji-bijian, dan padi sebagai asupan makan tambahan selain makanan pokoknya berupa dedaunan segar berupa hijauan rumput.

 

Dari Sapi Bali Lahir Sapi Unggul

sapi-bali-450x309

Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang. Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi.

Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.

Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.

Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.

Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.

Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.

Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali. Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.

Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

ATP Jembrana

Di Pulau Bali, pemprov bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengembangkan ATP Jembrana di Bali Barat di lahan seluas 5 hektar bekas kebun koleksi tanaman hortikultura Provinsi Bali.

ATP Jembrana mulai dikembangkan Maret 2007 hingga lima tahun mendatang dengan melibatkan peneliti dari LPND Ristek terkait antara lain LIPI, BPPT, dan Batan.

Pengembangan sapi bali di kawasan ATP ini, kata I Wayan Budiastra, Koordinator ATP KNRT, diharapkan dapat mengatasi tiga masalah besar, yaitu menurunnya populasi dan mutu sapi bali, persilangan satu keluarga (imbreeding), dan terbatasnya akses petani/peternak akan teknologi peternakan modern, termasuk teknologi pertanian terpadu (biocyclofarming).

Untuk menstimulasi peningkatan populasi dilakukan program intensifikasi sapi potong, pelaksanaan program sejuta akseptor inseminasi buatan (IB), pembangunan pusat penanaman bibit sapi di pedesaan dan pendirian pusat agrobisnis komoditas unggul.

Upaya peningkatan populasi sapi perlu diakselerasi melalui penerapan teknologi agar sasaran swasembada daging pada tahun 2010 dapat tercapai.

Program ATP Jembrana, kata Syahruddin Said, peneliti Bioteknologi Reproduksi Ternak LIPI, difokuskan pada penerapan dan alih teknologi pembibitan sapi bali, yaitu transfer embrio dan IB sexing dan program lain yang mendukung pembibitan sapi Bali dan siklus pertanian terpadu seperti teknologi pakan, pengolahan kotoran sapi, biogas dan budidaya hijauan makanan ternak (HMT), termasuk juga budidaya hortikultura dan teknologi pembenihan ikan.

Pembibitan sapi unggul difokuskan pada kelompok tani dengan supervisi teknologi dari ATP. Sebanyak 17 kelompok tani terikat perjanjian gaduh sapi dengan ATP (model yang umum dipakai Direktorat Jenderal Peternakan). Setiap kelompok mendapat 10 induk sapi betina sehingga sapi ATP yang ada di kelompok berjumlah 180 ekor.

Sebanyak 20 ekor sapi betina akan menjadi kelompok setelah mengembalikan 20 anak sapi paling lama tiga tahun. Anak sapi yang dikembalikan akan digulirkan kembali pada kelompok lain yang belum mendapat sapi gaduh. ”Diharapkan dengan program ini populasi sapi bali akan meningkat menurut deret ukur,” urainya. Kegiatan embrio transfer juga dilaksanakan di ATP Jembrana. Pada 2008 telah dihasilkan 2.200 straw atau dosis sperma sexing dan telah diaplikasikan pada 220 sapi betina, menghasilkan 52 anak sapi.

Teknologi penggemukan sapi dilakukan pada 78 sapi jantan di ATP dengan menerapkan kombinasi HMT dan formulasi konsentrat pakan hasil litbang Batan, BPPT, dan LIPI. Untuk mengatasi keterbatasan HMT, khususnya pada musim kemarau, digunakan teknologi pakan suplemen UMMB dan SPM berbasis sumber daya lokal yang menjadi target pengembangan ATP mendatang Video Pilihan

sumber : kompas.com 

Tips Praktis Beternak Sapi Bali

Sapi Bali banyak dipilih oleh peternak untuk dibudidayakan karena relatif lebih mudah dalam pemeliharaanya. Sapi potong yang satu ini selain diternakkan dengan cara dikandangkan (untuk penggemukan) juga dilepas di padang penggembalaan (sistem ranch).

Dari sisi kesuburan, Sapi Bali memiliki tingkat fertilitas yang cukup tinggi yaitu 83-86%, ketahanannya bagus terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, cepat berkembang biak, kandungan lemak karkas rendah dan bereaksi positif terhadap perlakuan pemberian pakan. Continue reading →