Tips Praktis Beternak Sapi Bali

Sapi Bali banyak dipilih oleh peternak untuk dibudidayakan karena relatif lebih mudah dalam pemeliharaanya. Sapi potong yang satu ini selain diternakkan dengan cara dikandangkan (untuk penggemukan) juga dilepas di padang penggembalaan (sistem ranch).

Dari sisi kesuburan, Sapi Bali memiliki tingkat fertilitas yang cukup tinggi yaitu 83-86%, ketahanannya bagus terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, cepat berkembang biak, kandungan lemak karkas rendah dan bereaksi positif terhadap perlakuan pemberian pakan.

Karakter reproduksi juga sangat baik yaitu rata-rata tingkat kebuntingan 90-100%, angka kelahiran tinggi yaitu 72,6-92,6%. Sedangkan angka mortalitasnya (kematian) rendah yaitu 3,65%.

Masyarakat peternak umumnya memfungsikan Sapi Bali sebagai sumber tenaga kerja pertanian, sumber pupuk organik, sebagai sapi potong yang menghasilkan daging, sumber bibit dan menyumbangkan atraksi agrowisata. Karena itu peternakan Sapi Bali terus dikembangkan agar keberadaannya tetap lestari dan meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya peternak sapi.

Keunggulan Sapi Bali dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya : Pertama, tubuh berwarna merah bata pada anak dan betina, sedangkan yang jantan berwarna hitam setelah berumur setahun. Kedua, kaki dan bagian belakang putih. Ketiga, cermin hidung dan ujung ekor hitam. Keempat, punggung bergaris hitam.

Pertanyaanya setelah itu, bagaimana beternak sapi Bali.

  1. Memilih Bibit Sapi Bali

Dalam memilih sapi bakalan untuk penggemukan, sebaiknya pilih sapi yang memenuhi persyaratan jantan atau betina yang tidak produktif, bentuk tubuh bagus (badan, kepala, leher, kaki) pertautan kulit longgar, kesehatan baik (kulit mengkilap, mata bersinar, cermin hidung lembab). Ciri lainnya adalah nafsu makan baik, berat badan 275-300 kg.

  1. Memilih Induk Sapi Bali

Untuk Induk harus betina yang sehat. Asal usul diketahui yakni dari keturunan produktif, tidak inbreeding. Mempunyai sifat keindukan baik yaitu kepala, leher halus dan ramping., bagian pinggul lebih besar dibandingkan bagian dada, ambing besar, putting 4 buah, sejajar dan simetris, kaki besar, kuat, berdiri tegak dan simetris. Maksimal 2 kali beranak dan produktif. Tinggi kumba minimal 110 cm, panjang badan minimal 115 cm.

  1. Pakan Sapi Bali

Jenis pakan berupa hijauan dan dedaunan segar, limbah pertanian seperti jerami padi, jerami jagung, kulit kakao, kulit kopi yang dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada sapi. Selain hijauan, Sapi Bali juga biasa diberi pakan tambahan seperti dedak padi, jagung dan bijian lainnya. Sapi membutuhkan pakan hijauan sebanyak 10%  dari berat badannya setiap hari. Hijauan tersebut terdiri dari 2/3 bagian rerumputan dan 1/3 bagian kacang – kacangan. Pakan tambahan berupa dedak padi 1-2 kg/ hari dan mineral sesuai dengan kebutuhan. Selain pakan, sapi juga memerlukan air minum yang cukup.

  1. Kandang Sapi Bali

Kandang yang nyaman bagi ternak adalah bersih, kering dan hangat. Untuk itu kandang untuk beternak sapi bali dibuat agar memenuhi kriteria cukup untuk mendapat sinar matahari, aliran udara lancar agar sapi tidak merasa kepanasan maupun kehujanan. Kandang juga harus mempunyai saluran pembuangan kotoran yang memadai terbuat dari bahan yang kuat, tidak melukai sapi dan tahan lama. Lantai kandang datar, cukup keras,  dilengkapi dengan garis- garis tebal mengarah dari depan (kepala) ke belakang (pantat sapi) dan makin ke belakang semakin dalam. Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat air minum. Ukuran kandang sapi dewasa panjang 2 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 2 meter.

  1. Merawat Kesehatan Sapi Bali

Merawat kesehatan saat beternak sapi bali meliputi mencegah dan mengobati penyakit. Mencegah penyakit dapat dilakukan dengan menerapkan biosekuriti yaitu mengupayakan kandang dan lingkungan yang selalu bersih, melakukan penyemprotan kandang secara teratur, memvaksinasi sapi sesuai rekomendasi dinas yang menangani peternakan setempat. Selain itu memisahkan atau mengandangkan tersendiri sapi yang sakit dan sapi yang baru datang dari daerah lain. Beberapa penyakit yang umum adalah kembung perut, (bloat/timpani) dan cacingan. Kedua penyakit ini dapat dicegah dengan pelayuan hijauan yang diberikan kepada sapi. Penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah penyakit jembrana, ngorok dan diare ganas menular.

  1. Mengatur Reproduksi Sapi Bali

Sapi Bali umumnya siap kawin pada umur 15-20 bulan untuk betina. Sedangkan pada sapi jantan umur 15-24 bulan. Tanda-tandanya dengan munculnya birahi. Sapi dapat dikawinkan 12-18 jam sejak munculnya tanda-tanda birahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *